Imam Tasawuf Debu Al-Qasim Al-Junayd Ibn Muhammad Ibn Junayd Al-Baghdadi


 

Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia. Berhubungan dengan kekhusyukan, Syaikh Junayd al-Baghdadi juga mengatakan,“Tuhan menyucikan ‘hati’ seseorang berdasarkan kadar kekhusyuknya dalam mengingat Dia.”

Nama lengkapnya ialah Abu al-Qasim al-Junayd ibn Muhammad ibn Junayd al-Baghdadi. Ia kemudian lebih terkenal dengan panggilan Imam Junayd al-Baghdadi, dan terkadang juga dipanggil al-Junayd saja. Ia merupakan tokoh sufi yang besar pengaruhnya di Baghdad. Imam Junayd lahir di Kota Nihawand, Persia, dan wafat pada 298 H/910 M. Meskipun ia lahir di Nihawand, keluarganya bermukim di Kota Baghdad, kawasan ia mencar ilmu aturan Islam berdasarkan mazhab Imam Syafi’i, dan risikonya ia menjadi qadi di Baghdad, kemudian ia menganut Mazhab Imam Abu Tsaur.( murid Imam Syafi'i )



Dalam disiplin sufi, ia ialah murid pamannya, Syaikh Sari as-Saqati (w. 253 H/867 H), saudara kandung dari ibunya sendiri. Di samping mencar ilmu dengan as-Saqati, ia juga berguru kepada Abu Abd Allah al-Haris ibn Asad al-Basri al-Baghdadi al-Muhasibi (165 H – 243 H/781 – 857 M), seorang sufi yang terkemuka di Baghdad dikala itu. Imam Junayd al-Baghdadi, bahkan dipandang sebagai murid terdekat dan paling banyak mendapat ilmu dari Haris al-Muhasibi tersebut.

Sejak kecil, Imam Junayd terkenal sebagai orang yang cerdas, sehingga sangat gampang dan cepat mencar ilmu ilmu-ilmu agama dari pamannya. Karena kecerdasannya itu, dikala berumur tujuh tahun, Imam Junayd telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan ihwal makna syukur. Dengan hening dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, "Jangan hingga Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.” Itulah balasan yang singkat dari Imam Junayd.

Kehidupan Imam Junayd al-Baghdadi,di samping sebagai sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, ia juga sebagai pedagang yang meneruskan usaha ayahnya, yaitu sebagai pedagang barang pecah-belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, ia ke rumah dan bisa mengerjakan shalat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus raka'at.

Disamping itu, Imam Junayd mempunyai sifat tegas dalam pendirian. Itu terlihat dikala ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309 H/922 M), sufi pelopor konsep Hulul. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syari'at, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi berdasarkan hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui.”

Pada simpulan perjalanan hidupnya, ia diakui banyak muridnya sebagai imam. Sehubungan dengan itu, dalam pandangan Sa’id Hawwa, seorang tokoh sufi kontemporer, ada beberapa sufi yang sanggup diterima oleh umat Islam, salah satunya ialah Imam Junayd al-Baghdadi ini, di samping tokoh-tokoh lain, ibarat al-Ghazali (w.505 H/1111 M). Imam Junayd meninggal dunia pada Jumat, 298 H / 910 M (versi lain: 297 H/910 M) dan dimakamkan di akrab makam pamannya sekaligus gurunya, Syaikh Sari as-Saqati, di Baghdad.

Dari surat-suratnya atau risalah-risalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya, sanggup dipandang bahwa jalan hidup Imam Junayd al-Baghdadi merupakan usaha yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu, yakni Tuhan. Bagi al-Junayd al-Baghdadi, cinta spiritual (mahabbah) berarti, “Sifat-sifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat pencinta.”

Imam Junayd memusatkan semua yang ada dalam pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua impian dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT. Untuk itulah, dengan paham-paham ketasawufannya, ia sering dipandang sebagai seorang syaikh sufi yang kharismatik di kota Baghdad. Banyak tarekat sufi yang silsilahnya melalui Imam Junayd.

Imam Junayd terkenal sebagai tokoh sufi yang sangat konsen dengan dunia tasawuf yang digelutinya. Bahkan bagi ia tidak ada ilmu di dunia ini yang lebih tinggi dari tasawuf. Dalam hal keteguhan pada tasawuf inilah ia mengatakan, “Apabila saya mengetahui ilmu yang lebih besar dari tasawuf, tentulah saya pergi mencarinya, sekalipun harus dengan cara merangkak.”


Berbagai Sumber 

Sumber http://tarekataulia.blogspot.com/

Comments